Sunday, July 18, 2021

Implementasi Pendekatan Sosial Kognitif (Albert Bandura) pada Pembelajaran PAI

IMPLEMENTASI PENDEKATAN SOSIAL KOGNITIF (ALBERT BANDURA) PADA PEMBELAJARAN PAI DALAM MENUMBUHKAN SIKAP KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN

Muhammad Bahrul Munir, Fatimatuz Zahroh, Robi'ul Awwaliya

Prodi PAI Pascasarjana IAIN Kediri

munirbakhrul99@gmail.com, Fatimatuzzahroh268@gmail.com, awwaliyaaa@gmail.com

Abstrak

Artikel ini membahas tentang implementasi pendekatan sosial kognitif (albert bandura) pada pembelajaran pai dalam menumbuhkan sikap kepedulian terhadap lingkungan. Adapun temuan artikel ini dilatarbelakangi dengan pembelajaran siswa melalui pengamatan terhadap apa yang ada dilingkungan sekitar terutama dalam pembelajaran PAI,  yang nantinya apa yang mereka amati dapat mencerminkan sikap kepedulian antar siswa dengan lingkungan.  Karena, Setiap individu siswa akan mempelajari berbagai macam hal, yang berpusat pada perhatian, daya ingat, persepsi serta pola pikir dari hal-hal kecil sampai mempelajari hal-hal besar, seperti seorang siswa yang memperhatikan pembelajaran yang sedang berlangsung. Salah satu teori pembelajaran yang dapat digunakan adalah teori sosial kognitif. Teori sosial kognitif (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari teori belajar sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura.

Kata kunci : Sosial Kognitif, Pembelajaran PAI , Sikap Kepedulian Lingkungan

Pendahuluan

Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Albert Bandura lahir di kanada pada tahun 1925. Ia memperoleh gelar doktornya dalam bidang psikologi klinis dari University of lowa di mana arah pemikirannya di pengaruhi oleh tulisan Miller dan Dollard (1941) yang berjudul Social Learning And Imitation. Penamaan baru dengan nama Teori Kognitif Sosial ini dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Ide pokok dari pemikiran Bandura juga merupakan pengembangan dari ide Miller dan Dollard tentang belajar meniru (imitative learning).2 Pada beberapa publikasinya, Bandura telah mengelaborasi proses belajar sosial dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial. 

Teori kognitif sosial adalah teori yang menonjolkan gagasan bahwa sebagian besar pembelajaran manusia terjadi dalam sebuah lingkungan sosial. Dengan mengamati orang lain, manusia memperoleh pengetahuan, aturan-aturan, keterampilan-keterampilan, strategi-strategi, keyakinan-keyakinan, dan sikap-sikap. Individu-individu juga melihat model-model atau contoh-contoh untuk mempelajari kegunaan dan kesesuaian prilaku-prilaku akibat dari prilaku yang di modelkan, kemudian mereka bertindak sesuai dengan keyakinan tentang kemampuan mereka dan hasil yang diharapkan dari tindakan mereka.3 

Bandura mengembangkan teorinya untuk mebahas cara-cara orang memiliki kendali atas peristiwa dalam hidup mereka melalui pengaturan diri atas pikiran-pikiran dan tindakan mereka. Proses dasarnya meliputi menentukan tujuan, menilai kemungkinan hasil dari tindakan-tindakan, mengevaluasi kemajuan pencapaian tujuan, dan pengaturan diri atas pikiran, emosi, dan tindakan. Bandura menjelaskan bahwa karakteristik khas lainnya dari teori kognitif sosial adalah peran utama yang di berikannya pada fungsi-fungsi pengaturan diri. Orang berprilaku bukan sekedar untuk menyesuaikan diri denagn kecendrungan-kecendrungan orang lain. Kebanyakan perilaku mereka dimotivasi dan diatur oleh standard internal dan reaksi-reaksi terhadap tindakan meraka sendiri yang terkait dengan penilaian diri.

Rumusan Masalah

Bagaimana implementasi pendekatan sosial kognitif (albert bandura) pada pembelajaran PAI  dalam menumbuhkan sikap kepedulian terhadap lingkungan?

Kajian Teori 

1. Teori Belajar Sosial Kognitif

Teori sosial kognitif (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari Teori belajar sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Albert Bandura lahir di Kanada pada tahun 1925. Ia memperoleh gelar doktornya dalam bidang psikologi klinis dari University of Lowa di mana arah pemikirannya dipengaruhi oleh tulisan Miller dan Dollard yang berjudul Social Learning And Imitation. Penamaan baru dengan nama teori sosial kognitif ini dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Ide pokok dari pemikiran Bandura juga merupakan pengembangan dari ide Miller dan Dollard tentang belajar meniru (imitative learning). Pada beberapa publikasinya, Bandura telah mengelaborasi proses belajar sosial dengan faktorfaktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial.

Ketertarikan Bandura dalam hal perilaku dan kepribadian, mendorongnya untuk memahami perilaku (behavior), dari berbagai segi yakni melibatkan proses kognitif di samping proses perilaku itu sendiri. Hal ini melahirkan konsepsi berfikir dalam pemahaman perilaku dan dalam bukunya social foundation of thought and action; a social cognitive theory menjelaskan bahwa perilaku itu bukan imitasi melainkan adanya aspek kognitif sebagai pertimbangan kenapa perilaku muncul dan kenapa tidak dimunculkan, hal ini disebut dengan observational learning bahwa belajar dan pembentukan perilaku bukan karena imitasi, melainkan adanya pertimbangan kognitif si observer terhadap lingkungannya. Ini yang mendasarkan lahirnya konsep teori sosial kognitif.

Bandura meyakini bahwa tindakan mengamati memberikan ruang bagi manusia untuk belajar tanpa berbuat apapun. Manusia belajar dengan mengamati perilaku orang lain. Vicarious learning adalah pembelajaran dengan mengobservasi orang lain. Fakta ini menantang ide behavioris bahwa faktorfaktor kognitif tidak dibutuhkan dalam penjelasan tentang pembelajaran. Bila orang dapat belajar dengan mengamati, maka mereka pasti memfokuskan perhatiannya, mengkonstruksikan gambaran, mengingat, menganalisis, dan membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi pelajaran. Bandura percaya penguatan bukan esensi pembelajaran. Meski penguatan memfasilitasi pembelajaran, namun bukan syarat utama. Pembelajaran manusia yang utama adalah mengamati model-model, dan pengamatan inilah yang terus menerus diperkuat.

Fungsi penguatan dalam proses modeling, yaitu sebagai fungsi informasi dan fungsi motivasi. Penguat memiliki kualitas informatif maksudnya, tindakan penguatan dan proses penguatan itu sendiri bisa memberitahukan pada manusia perilaku mana yang paling adaptif. Manusia bertindak dengan tujuan tertentu. Dalam pengertian tertentu, manusia belajar melalui pengalaman mengenai apa yang diharapkan untuk terjadi, dan demikian mereka bisa menjadi semakin baik dalam memperkirakan perilaku apa yang akan memaksimalkan peluang untuk berhasil. Dengan demikian pengetahuan atau kesadaran manusia mengenai konsekuensi perilaku tertentu bisa membantu mengoptimalkan efektivitas suatu program pembelajaran. Selanjutnya, penguat dalam teori pembelajaran sosial dipahami sebagai hal yang memiliki kualitas motivasi. Maksudnya, manusia belajar melakukan antisipasi terhadap penguat yang akan muncul dalam situasi tertentu, dan perilaku antisipasi awal ini menjadi langkah awal dalam banyak tahapan perkembangan. 

Orang tidak memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, tetapi mereka bisa mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi apa yang akan muncul dari perilaku tertentu berdasarkan apa yang mereka pelajari dari pengalaman baik dan buruk yang telah dialami orang lain (dan yang terpenting, tanpa langsung menjalani sendiri pengalaman itu). Sedangkan prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura termasuk sosial dan moral. Menurut Barlow, sebagian besar yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation), dan penyajian, contoh perilaku (modeling). Dalam hal ini, seseorang siswa belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian cara orang lain atau sekelompok orang mereaksi atau merespons sebuah stimulus tertentu. Siswa ini juga dapat mempelajari respons-respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain, misal guru atau orangtuanya.

Dari pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa teori belajar sosial Albert Bandura adalah sebuah teori belajar yang memfokuskan orang belajar dari yang lain, atau dengan kata lain orang belajar dengan melihat orang lain melalui observasi, pengamatan, peniruan dan pemodelan baik pengamatan perilaku orang lain, sikap bahkan hasil dari perilaku tersebut. Bandura meyakini bahwa tindakan mengamati memberikan ruang bagi manusia untuk belajar tanpa berbuat apapun, dengan belajar mengamati inilah seseorang dapat memfokuskan perhatiannya, mengkonstruksikan gambaran, mengingat, menganalisis, dan membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi pelajaran.

 2. Konsep Pembelajaran Sosial (Social Learning) Albert Bandura

Secara umum, teori ini menyatakan bahwa manusia bukanlah seperti robot yang tidak mempunyai pikiran dan menurut saja sesuai dengan kehendak pembuatnya. Namun, manusia mempunyai otak yang dapat berpikir, menalar, dan menilai, atau membandingkan sesuatu, sehingga dapat memilih arah bagi dirinya.8 Bandura meneliti beberapa kasus, salah satunya ialah kenakalan remaja. Menurutnya, lingkungan memang membentuk perilaku dan perilaku membentuk lingkungan. Jadi dapat dipahami dari konsep Bandura ini bahwa lingkungan dan perilaku seseorang saling mempengaruhi satu sama lain. Selain aspek perilaku dan lingkungan juga di pengaruhi kognitif seseorang. Karena itu, dia menyatakan lebih lanjut dalam konsepnya aspek perlaku, lingkungan, serta kognitif saling berhubungan dan mempengaruhi belajar, ketiga aspek tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut:

Konsep pembelajaran sosial

Konsep diatas menandakan bahwa tindakan manusia adalah hasil dari interaksi antara lingkungan, perilaku dan manusia itu sendiri, yang nantinya akan menghasilkan timbal balik untuk mengindikasikan adanya interaksi dan dorongan yang mempunyai kekuatan dan memberikan konstribusi yang setara. misal, mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh satu sama lain. Sebagai contoh, umpan balik guru (lingkungan) dapat mengarahkan siswa untuk menetapkan tujuan yang lebih tinggi (kognitif) dan tujuan ini akan memotivasi siswa untuk menempatkan lebih banyak upaya (perilaku) dalam studi mereka. 

Prinsip utama dari teori pembelajaran sosial Bandura ini ialah pemodelan (modeling). Pemodelan sesuai dengan istilahnya adalah pembelajaran dengan metode percontohan. Melalui modeling ini diharapkan bisa terjadi umpan balik atau interaksi yang baik antara guru dengan siswa. 

3. Pendidikan Agama Islam

Menurut Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang melalui ajaran-ajaran agama Islam yaitu berupa bimbingan dan asuhan kepada anak didik agar nantinya setelah selesai pendidikan ia akan dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam itu sebagai suatu pandangan hidup demi keselamatan hidup dunia dan akhirat.

Abdul Majid dalam jurnalnya Syahril Ramadhan menyatakan Pendidikan Agama Islam mengacu dalam beberapa hal yaitu :

  • Menyangkut pendidikan secara sadar dan terencana (perencanaan) yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
  • Proses transfer pengetahuan (pelaksanaan).
  • Sumber pendidikan yang berasal dari al-Qur’an dan al-Hadits (Materi).
  • Bertujuan menghasilkan murid yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam, serta kemampuan untuk hidup berdampingan dengan penganut agama lain dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan syariat Islam. 

Dengan tujuan adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan Agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Dengan demikian dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar seorang pembimbing dan pemimpin dari si pendidik kepada si terdidik terhadap perkembangan jasmani dan ruhani, serta proses menyiapkan generasi muda dengan memberikan nilai-nilai pengetahuan dan keislaman dalam membentuk individu yang memiliki kepribadian yang baik berdasarkan ajaran Islami yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar mencapai derajat yang lebih tinggi sehingga mampu menunaikan tugasnya menjadi khalifah dimuka bumi. 

Adapun tujuan pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah menurut Abdul Majid dan Dian Andayani yaitu untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamatan, serta pengalaman siswa tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaan, berbangsa dan bernegara serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.

4. Sikap Kepedulian Sosial

Menurut Azwar, “sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan”.Sedangkan menurut Harlen. “sikap adalah kesiapan atau kecenderungan sesorang untuk bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu”. Menurut Wibowo, “Peduli adalah mengindahkan, memperhatikan dan menghiraukan. Kepedulian adalah perihal sangat peduli dan sikap mengindahkan atau memprihatinkan terhadap objek tertentu.”

Hamalik , mengatakan bahwa “lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan atau pengaruh tertentu kepada individu”.

Menurut Yaumi, “Peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang berupaya mencegah kerusakan alam dilingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

Menurut Saptono , “sikap peduli lingkungan siswa dapat muncul pada saat siswa diajak untuk belajar sikap peduli dengan cara bertindak peduli”. Dengan kata lain, mengajak siswa untuk terjun langsung ke lingkungan akan menumbuhkan sikap peduli siswa terhadap lingkungan. Siswa akan memahami bahwa segala perilaku manusia yang bersifat merusak alam, akan berakibat buruk yang dirasakan oleh manusia itu sendiri, dengan demikian siswa akan memiliki sikap peduli dan sadar terhadap lingkungan disekitarnya. 

Dari pemamaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, Sikap peduli lingkungan merupakan salah satu sikap dari reksi perasaan seoarang individu dalam menghadapi atau bertindak terhadap suatu objek atau situasi terutama dalam lingkungan. Begitu juga perilaku siswa terhadap lingkungannya, dimana siswa mampu memahami dan mempelajarai apa yang ada di sekelilingnya dengan tidak merusak lingkungan serta mampu menjaga alam dan seisinya dengan baik

Metode 

Metode penelitian adalah suatu proses atau cara yang dipilih secara spesifik untuk menyelesaikan masalah yang diajukan dalam sebuah riset. Adapun metode yang digunakan dalam artikel ini yaitu menggunakan metode kajian literature atau pustaka dengan pendekatana kualitatif, adapun teknik dalam pengumpulan data yang dilakukan penulis dengan mencari referensi dari buku, materi perkuliahan dan jurnal yang relevan dengan topic pembahasan . kemudian pembahasan ini berisi implementasi pendekatan sosial kognitif (albert bandura) pada pembelajaran PAI dalam menumbuhkan sikap kepedulian terhadap lingkungan. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam artikel ini yaitu menggunakan analisis deskriptif.

Pembahasan

Implementasi Pendekatan Sosial Kognitif (Albert Bandura) Pada Pembelajaran PAI  Dalam Menumbuhkan Sikap Kepedulian Terhadap Lingkungan.

Teori social kognitif pada dasarnya merupakan sebuah teori yang ingin menggambarkan bagaimana manusia sebagai makhluk social dapat memperoleh informasi dengan berbagai macam cara dan proses yang berbeda-beda. Sebagaimana Albert Bandura dalam teorinya mengatakan bahwa manusia memperoleh informasi merupakan suatu cara organisme social. Hal ini berarti bahwa seseorang/kelompok manusia dapat belajar baik secara langsung maupun tidak langsung, dimana dalam proses belajarnya dapat menggunakan gambaran orang lain secara langsung(model) yang merupakan bentuk interaksi gambaran kehidupan sebagai makhluk social. Dari hasil interaksi inilah akan membentuk ingatan atau terekam dalam memori manusia. Dari memori-memori inilah yang nantinya akan menjadi pengetahuan sebagai bentuk setting social yang nantinya dapat dijadikan sebagai pengelaman. 

Dalam teori Albert bandura menyatakan bahwa factor social dan kognitif, dan juga perilaku memainkan peran penting dalam pembelajaran, factor kognitif inlah yang mungkin  berupa ekspetasi siswa untuk meraih keberhasilannya dalam belajar, sedangkan factor social berupa pengamatan peserta didik terhadap perilaku orang tua ataupun perilaku orang lain yang ada disekitarnya. 

Dengan kata lain, seseorang belajar dilakukan dengan melalui pengamatan tingkah laku orang lain (model) hasil pengamatan itu kemudian dimantapkan dengan cara menghubungkan pengamatan baru dengan pengalaman sebelumnya atau mengulang-ulang yang nantinya akan menimbulkan sebuah tingkah laku maupun perbuatan. Sebab, perilaku seseorang dipengaruhi oleh orang, lingkungan serta perilaku itu sendiri, yang kemudian akan menghasilkan perilaku selanjutnya. Dalam hal ini ketiga komponen ini tidak dapat di pahami secara terpisah sebab ketiganya sangat berkaitan erat satu sama lain, inilah yang disebut dengan teori determinisme Albert Bandura sebagai bagian dari social kognitif. 

Adapun proses yang digunakan dalam konsep albert bandura dalam proses belajar yang secara langsung akan dikaitkan dengan proses pembelajaran PAI yaitu sebagai berikut:

1. Memberi perhatian (Attention)

Sebagai pengamat, orang tidak dapat belajar melalui observasi kecuali jika ia memperhatikan kegiatan-kegiatan yang dipergakan oleh model itu dan benar-benar memahaminya. Dalam hal ini perilaku yang mencolok pandangan mata akan lebih mudah diperhatian dan dipahami. Selain itu, juga tergantung pada apakah si pengamat siap untuk memperhatikan perilaku-perilaku yang dipergakan tersebut, terutama ketika banyak hal lain yang seolah-olah berebut untuk mendapatkan perhatian pengamat. Proses memberi perhatian juga tergantung pada kegiatan apa dan siapa modelnya yang bersedia untuk diamati dan perilaku yang diamatai tersebut harus menghasilkan dampak yang dapat ditangkap pancaindra. 

Dalam hal ini dapat dipraktikkan pada kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Dimana guru mendapatkan perhatian dari siswa seperti contoh dalam melaksanakan praktik sholat. Guru akan memperaktikkan kepada siswa tata cara melaksnaakan shalat, kemudian siswa akan memperhatikan serta memahami apa yang telah disampaikan guru, dan menyimpan semua ingatannya didalam memori pikirannya kemudian menjadi pengetahuan dan pengalamannya dalam pelaksanaan shalat yang dilakukan melalui pengamatan siswa terhadap guru. Sehingga, dalam hal ini siswa yakin apa yang telah ia amati akan menjadi pengetahuan baru dalam meningkatkan pembelajarannya serta siswa nantinya mampu memperaktikkan secara langsung pelaksanaan shalat tersebut.

2. Menyimpan dalam ingatan (Retention)

Setelah perilaku diamati, pengamat harus dapat mengingat apa yang telah diamatinya. Hal ini bisa dilakukan dilakukan dengan cara memberi kode dari informasi yang telah didapatnya menjadi bentuk gambar atau dalam bentuk verbal yang kemudian disimpan dalam ingatannya. Hal ini sanagt membantu apabila kegiatan yang ditiru segera diulang atau dipraktikkan setelah pengamatan selesai. Dalam kegiatan pembelajaran diperlukannya. Seperti pola perilaku yang anak tampilkan melalui pengamatan, serta mengingtnya dalam jangka waktu yang cukup lama, sebab seseorang tidak akan terpengaruh apabila apa yang diamati olehnya tidak disimpan dalam ingatannya. 

Dalam teori albert bandura, menyimpan ingata (retention) dapat berupa imajinasi dan berupa verbal, dimana, imajinasi ini berupa gambaran-gambaran berbagai hal yang dialami model yang dapat siswa amati, dan dilaksnakan setelah siswa melakukan observasi. Tidak hanya itu dalam menarik daya minat peseta didik diperlukan model/media pembelajaran yang menarik seperti video pembelajaran berkarakter animasi sehingga apa yang telah ditunjukan dapat menarik perasaan, perhatian siswa kemudian dapat disimpan dalam memori ingatannya. Seperti contoh dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, untuk menarik daya minat siswa memahami materi yang disampaikan maka guru memberikan media pembelajaran berupa video tentang tata berpaikan yang baik menurut syariat islam, dengan video yang dilengkapi dengan animasi yang menarik maka akan emmpermudah siswa memahami apa yang dipelajari serta mampu mengingatnya dengan baik bagaimana seharusnya kita berpakaian dengan baik menurut syariat agama islam.

3. Proses reproduksi (production)

Setelah melalui tahap peniruan, pengematan dapat mengubah ide, gambar yang ada dalam ingatanya menjadi suatu tindakan. Tindakan-tindakan yang diperagakan dapat direkam melalui video sebagai alat bantu. Hal ini merupakan salah satu cara pemberian umpan-balik bagi pengamat sebagai observasi diri (self observation)  melalui penayangan kembali rekaman video tersebut. Dalam proses ini bertujuan untuk membetulkan perilaku yang salah sehingga kemuadian akan diperagakan oleh model perilaku yang benar. Seperti contoh seorang guru memberikan video pembelajaran tentang berperilaku sopan santun, saling tolong menolong serta menghormati sesama, baik kepada orang tua, guru, teman sebaya , bahkan lingkungan sekitar, dari video tersebut siswa akan memahami apa yang telah disampaikn sehingga diharapkan nantinya siswa mampu memperaktikkan perilaku yang ditampakkan dari video yang telah diamati siswa

4. Motivasi

Tahap ini yaitu sebagai wujud dari tahap penerimaan dorongan, penguatan segala informasi dalam memori siswa. Dalam hal ini, guru dianjurkan untuk memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada siswa yang berkinerja memuaskan. Sementara itu, kepada mereka yang belum menunjukan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang disajikan model (guru) bagi kehidupan mereka.

Pada proses ini siswa harus termotivasi untuk menunjukan tindakan model serta adanya dorongan yang mendasar kenapa siswa harus menunjukan apa yang telah ditampilakn oleh model melalui observasi siswa. Sebab dengan siswa melakukan tiruan model maka dengan ini siswa akan merasa bahwa apa yang dia lakukan akan meningatkan siswa dalam memperoleh penguatan. Dalam hal ini motivasi biasanya terjadi dalam proses pembelajaran berupa pujian, penialaian maupun penghargaan atas apa yang telah dilakukan siswa. 

Dari pemaparan diatas pembelajaran social kognitif melalui pengamatan dalam proses pembelajaan PAI dapat diterapkan dalam beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  • Kurikulum , pada kurikulum pembelajaran social kognitif melalui pengamatan dapat dilakukan dengan memberikan siswa kesempatan dalam mengamati apa yang telah ia peroleh dari model yang memandu kearah positif.
  • Proses pembelajaran. Dalam hal ini guru mengharuskan proses pembelajaran kearah social koginit yaitu dengan menerapkan pembelajaran kolaboratif. Dimana pembelajaran kolaboratif menekankan pada pembelajaran dalam ranah konteks social dna lingkungan. Sehingga siswa mampu beradaptasi dengan lingkungannya dan juga dapat berkeloborasi atau bekerjasama dengan teman sebaya dalam menyelesaiakan permaslahannya pada saat belajar.
  • Penialain perilaku belajar seringkali tidak dapat dilaksanakan kecuali tersedianya lingkungan yang kondusif. Maka dari itu diharapakn dewan guru mampu menyediakan lingkungan yang baik sehingga dapat telaksananya penilaian yang akurat.

Banyak gagasan dalam kognitif yang dapat di aplikasikan dalam proses pembelajaran teruatama dalam pembelajaran pendidikan agama Islam yaitu dengan melibatkan model-model, maupun efikasi diri, yang dilakukan melalui pengamatan. Pada dasarnya model yang benar-benar harus menjadi tauladan yang baik bagi kita maupun peserta didik yaitu melihat bagaimana keteladanaan pada diri Nabi Muhammad SAW. Sebab beliaulah yang menjadi suri tauladan bagi kaum muslimin.  Begitu juga dalam lingkungan keluarga, perilaku orangtua sangat berpengaruh terhadap apa yang ditampilkan siswa, karena sebelum anak mengenal lingkungannya anak akan lebih terfokuskan pada apa yang ditampilkan orangtuanya. 

Begitu juga dalam kepedulian lingkungannya, siswa/anak sebenarnya dapat belajar tidak hanya melihat apa yang ditampilkan oleh si model(guru). Akan tetapi dapat melihat serta mengamati apa yang ada di sekelilingnya, jika ketika di sekolah dia diajarkan untuk berdikap baik, santun, menghormati dan saling tolong menolong maka ketika dilingkungan ia akan menampilkan atau mempraktikkan apa yang dia lihat dan amati saat proses pembelajaran. Seperti halnya ketika bertemu dengan orang yang lebih tua dia akan menyapa , ketika melihat temannya kesuliatn amka dia akan membantunya, dan saling bergotong royong dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dan dengan adanya teori belajar social kognitif ini diharakan apa yang telah siswa peroleh dili ngkungan sekolah mampu siswa praktikkan dilingkunag luar sekolah serta mampu membantu siswa dalam beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. 

Penutup

1. Kesimpulan

Teori social kognitif pada dasarnya merupakan sebuah teori yang ingin menggambarkan bagaimana manusia sebagai makhluk social dapat memperoleh informasi dengan berbagai macam cara dan proses yang berbeda-beda. Sebagaimana Albert Bandura dalam teorinya mengatakan bahwa manusia memperoleh informasi merupakan suatu cara organisme social. Dalam teori Albert bandura menyatakan bahwa factor social dan kognitif, dan juga perilaku memainkan peran penting dalam pembelajaran, factor kognitif inlah yang mungkin  berupa ekspetasi siswa untuk meraih keberhasilannya dalam belajar, sedangkan factor social berupa pengamatan peserta diidk terhadap perilaku orang tua ataupun perilaku orang lain yang ada disekitarnya.

Adapun proses yang digunakan dalam konsep albert bandura dalam proses belajar yang seceara langsung akan dikaitkan dengan proses pembelajaran PAI yaitu sebagai berikut:

  • Memberi perhatian (Attention)
  • Menyimpan dalam ingatan (Retention)
  • Proses reproduksi (production)
  • Motivasi

Dari pemaparan diatas pembelajaran social kognnitif melalui pengamatan dalam proses pembelajaan PAI dapat diterapkan dalam beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  • Kurikulum
  • Proses pembelajaran.
  • Penialain

2. Saran

  • Memberi perhatian (Attention)
  • Menyimpan dalam ingatan (Retention)
  • Proses reproduksi (production)
  • Motivasi

Dari beberapa point diatas perlu ditambahkan :

- Interaksi 

Dalam proses tersebut pasti ada interaksi baik siswa guru dan teman, serta ketika dirumah atau dimana saja pasti membutuhkan proses interaksi sebagai proses belajar pada dirinya sendiri.

Daftar Pustaka

Alfaiz, et. al. Perspektif Teori Kognitif Sosial dan Psikosintesis dalam Membentuk Kepribadian dalam Buku Bunga Rampai (Kumpulan Karya Dosen Seluruh Indonesia Bidang Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu-Ilmu Eksakta Tahun 2017). Purwokerto: IRDH, 2017.

Daradjat,Zakiyah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1992

Herowati. “Kemandirian Belajar Siswa dalam Online Learning Edmodo di SMKN Sumenep”, Jurnal Lensa, Vol. 6 No. 2 (November, 2016): 99-107.

Kuswana, Wowo Sunaryo. Biopsikologi Pembelajaran Perilaku. Bandung: Alfabeta, 2014.

Lesilolo, Herly Janet. “Penerapan Teori Belajar Social Albert Bandura dalam Proses Belajar Mengajar di Sekolah”, Kenosis, Vol. 4 No. 2 (Desember): 186-202.

Majid, Abdul dan Dian Andayani. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kopetensi. Remaja Rosdakarya : 2004

Marhayati, Nelly. et.al. “Pendekatan Kognitif Sosial pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”, Dayah: Journal of Islamic Education, Vol. 3 No. 2 (2020): 250-270.

Ramadhan, Syahril. “Evaluasi Pendidikan Agama Islam di Madrasah”. Jurnal Al-Thariqah. Vol. 2, No. 1. 2017

Sulastri. “Penerapan Teori Kognitif Sosial dalam Pembelajaran di SD/MI”, Al- Ashr: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-PAI- Universitas Islam Jember, Vol. 1 No. 1 (Maret, 2016): 125-141.

Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers, 2013.

Uno, Hamzah B. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. 2016.

Yanuardianto, Elga. “Teori Kognitif Sosial Albert Bandura”. Jurnal Auladuna. Vol. 1 No. 2. Oktober, 2019


Continue reading Implementasi Pendekatan Sosial Kognitif (Albert Bandura) pada Pembelajaran PAI

Friday, June 18, 2021

Dual-Language Learners: Indonesian and English

 Dual-Language Learners 

            People learn more than one language in a variety of ways. They might start learning two or more languages at the same time at home. They also might learn one language at home and begin to learn a second language when they attend an education in school. Indeed, the way people learn second language is not determined by age. This is because people needn’t to wait to be adult to start it. Children between birth and age five are learning language. The language which they learn can be more than one.  This raises some terms to describe how people learn language.

Friday, ‎June ‎11, ‎2021, ‏‎4:22:11 PM

        There are some terms used to describe children who are learning more than one language. One of them is dual language learners. Syrja states that in this type of programs, every student is guided learning to speak two languages simultaneously (2011, p.30). In other words, children are preserving their home language while learning the second language. This program is very useful for English Language Learners because it provides instructional practices to improve their ability to be fluent in English.  According to Susana, Brooke, and Yolanda, there must be systematic guidance to English learning which is combined with home language learning trough the same concept in order to achieve the highest achievement in both the students’ first and second languages (2008, p.4).  The benefits of this programs are that the students are able to join the learning process through language minority as well as native language. This can be deduced that dual language learners are children who are learning two languages at the same time. They learn a second language while continuing to develop their first (or home) language.

Indonesian and English

         The use of dual-language term advances the value and importance of first (home) and second language development. For dual-language learners, Passe considers that home languages are the languages of emotion, relationships, family traditions, and cultural values (2013, p.9). It means that home-language is used to communicate with families. In other words, this is one of ways to maintain their culture and connections. In addition, it is clear that home language cannot be abandoned despite children are trying to learn second language.  While the second language development also has important role in this program. Children are required to learn second language as well as learning their home language. Accordingly, dual language programs lead monolingual children become bilingual one.

Friday, ‎June ‎11, ‎2021, ‏‎4:22:11 PM

      Indonesian language is a mother language of Indonesia which is used as a means of communication among Indonesian people, both spoken and written. In fact, it plays two varieties of important role. In the formal variety, Bahasa Indonesia (BI) is mainly used in writing. According to Kridaklaksana in Kushartanti’s article, it has been propagated as a national language (2015, p.169), and ratified by the government in the 1945 Constitution. It is not only used to communicate in administration and national news media, but also used as the language of education.  Therefore, it is taught as the main subject in formal school, from elementary to secondary.

        Moreover, the informal variety lies in the using of colloquial Indonesian. Kushartanti states that it mainly used in spoken form, mostly in casual speech or semi-formal situations (2015, p.169).  Children who do not attend formal school yet, are able to speak colloquial Indonesian fluently. This is because in daily, people in their environment use it as communication language. They are also affected by the media, especially television which broadcasts children's entertainment. Thus, both children who have attended to formal school and those who have not yet, are required to learn Indonesian language in formal function. Otherwise, they are only able to use colloquial Indonesian without having deep understanding the use of the standard of their home language.

        At the same time, English also has important role for Indonesia. Because it has been used as language communication among countries, it is considered as nothing new in this modern world. According to Lauder based on Crystal’s theory (Crystal, 2003: p.67- 69), the global status of English is partly due to the number of people who speak it (Lauder: 2008). He estimates that in 2,000 people, there were approximately 1,500 million speakers of English worldwide. It consisted of around 329 million people who speak English as the first language, 430 million people who speak English as the second language, and about 750 million people who speak English as a foreign language in the countries of the expanding circle. This means that approximately one in four of the world’s population are capable of communicating to a “useful level” in English. Thus, it can be widely recognized that English is important for Indonesia.

REFERENCES

Franco-Fuenmayor, Susana E. Kandel-Cisco, Brooke. and PadrĂ³n, Yolanda. Improving Reading Comprehension in Dual Language Programs. TABE Journal. Vol. 10, No. 1. Winter 2008.

Kushartanti, Bernadette. Velde, Hans Van De. and Martin Everaert. Children’s use of Bahasa Indonesia in Jakarta kindergartens. Wacana. Vol. 16, No. 1. 2015.

Lauder, Allan. The Status and Function of English in Indonesia: A Review of Key Factors. Makara. Vol 12, No. 1. 20 July 2008.

Passe, Angele Sancho. 2013. Dual Language Learners: Strategies for Teaching English. St. Paul: Redleaf Press.

Syrja, Rachel Carrillo. 2011. How to Reach and Teach English Language Learners. San Fransisco: Jossey-Bass.


Written by Endang Wahyuni

Baca juga

Teaching Young Learners

Continue reading Dual-Language Learners: Indonesian and English

Thursday, April 1, 2021

Teaching Young Learners

Teachers of young learners need to know and understand the term of young learners and their characteristics. It will help them determining any aspects in the leaning and teaching process for young learners, such as curriculum, methods, teaching style, lesson plan, learning materials, and the way of getting along with them. This purposes to create an effective learning process. 

Wednesday, ‎August ‎14, ‎2019, ‏‎8:22:11 AM

What is “young learners”?

Term ‘young learners’ is frequently interpreted in different ways. The difference lies in the age mentioned. Ellis G believes that the term ‘young learners’ is now used to refer explicitly to children under the age of 13 (2014, p.75). As Linse writes in her book (2006, p.2), that young learners are defined as children between the ages of 5-12. It can be concluded that Young Learners are children who are studying in Kindergarten to Elementary School.

Children’s physical and psychological needs are different from adults’. Each child develops emotionally, morally, physically, and cognitively at different rates (Linse: 2006, p.3).  One child may not be bothered when he is accidently pushed by another child, while others may cry immediately. Some children are able to share their toys, while a different child considers that they should keep theirs. There are children who are able grasp sound-symbol relationship quickly, whereas it will take others a longer period of time to comprehend this concept. In short, children’s characteristic is different from adult.

Understanding young learners' characteristics

Teachers are able understanding children’s characteristics through biological and social point of view. In the biological point of view, generally biological is about children’s inborn characteristics which will grow and develop. While in social point of view, children are considered as the ones who need any help from knowledgeable people to expand their knowledge (Pinter: 2006, Juhana: 2014, p.43). Based on the two point of views, Juhana states that young learners have some characteristic as follows: “Young learners have a great curiosity to try new things and to explore concrete to abstract things (Pinter: 2006)”; “Young learners actively construct meaning from their experiences (Cameron: 2001)”; and “Young learners have a quite short attention span and are easy to get bored (Slattery and Willis, 2001)” (2014, p.43).

Teacher must pay attention to the three children’s characteristics mentioned above. First, young learners have a great curiosity to try new things and to explore concrete to abstract things. It means that in delivering the materials, teachers should focus on concrete items which can be absorbed by children. In other words, teachers should avoid teaching abstract concepts in order to obviate children’s misunderstanding. In addition, teachers are better using media in delivering the materials in order that the students are able to understand easily, such as using toys, puzzle, songs, etc.

Second, young learners actively construct meaning from their experiences. This is clear that young learners get their understanding not only from other people’s explanation but also from what they see and hear. When they have a chance to touch and interact with any objects, they are learning. In other words, children enhance learning through the real experience from their life. Teachers are able encouraging their learning process by letting them doing various activities which enable them to experience many things.

Third, young learners have a quite short attention span and are easy to get bored. It means that teachers should have ability maintaining children’s focus and attention. It can be done by creating interesting, fun, and enjoyable lesson for young learners. In short, being aware of what children can and cannot do developmentally, teachers will be better able to lead them in appropriate learning experiences. Young learners are active learners and thinkers.


REFERENCESS

Ellis, G. 2014. Young learners’: clarifying our terms.  ELT Journal.  Vol 68, No. 1. January 2014.

Juhana. Teaching English to Young Learners: Some Points to be Considered. Asian Journal of Education and e-Learning. Vol. 2, No. 1. February 2014.

Linse, Caroline T. 2006. Practical English Language Teaching: Young Learners. New York: McGraw-Hill.


Written by Endang Wahyuni


Baca juga
Continue reading Teaching Young Learners

Friday, July 10, 2020

,

Cara Membuat Nomor Halaman yang Berbeda di Microsoft Word

Penomoran halaman pada dokumen Microsoft Word bisa menggunakan angka (1, 2, 3 dst),  romawi kecil (i, ii, iii, dst), romawi besar (I, II, III, dst), huruf abjad kecil (a, b, c, dst), huruf abjad besar (A, B, C, dst) ataupun huruf hijaiyah.

Biasanya tulisan skripsi, makalah, atupun buku, menggunakan 2 jenis penomoran yaitu romawi kecil untuk halaman sampul, kata pengantar, daftar isi dan awalan-awalan lainnya, kemudian angka untuk halaman isi sampai selesai. 
Cara membuat nomor halaman yang berbeda di Microsoft Word - mudah dan cepat
Namun, masih ada beberapa orang yang belum mengerti cara untuk membuat nomor halaman yang berbeda dalam satu file di Microsoft Word. Banyak diantaranya yang masih bingung dan melakukannya dengan cara manual, yaitu membuat file secara terpisah. Halaman sampul, kata pengantar dan daftar isi diketik sendiri, kemudian halaman isi disendirikan dalam file yang berbeda. Tentu saja cara ini kurang efektif yaa...

Padahal, membuat nomor halaman yang berbeda dalam satu file di Microsoft Word sangatlah mudah. Berikut ini akan saya jelaskan langkah-langkahnya disertai dengan gambar agar lebih mudah mempraktekkannya.
  • Buka file Microsoft Word yang akan diberi nomor halaman
Dokumen masih belum memiliki nomor halaman
  • Klik Insert > Page number > Bottom of page (atau anda bisa memilih letak halaman sesuai kebutuhan, bisa atas, bawah, dll) > Pilih letak halaman yang sesuai
  • Halaman akan muncul, namun semua halaman masih menggunakan angka romawi kecil (perhatikan tanda panah). Pada halaman BAB I, kita akan mengganti halamannya menjadi angka 1.
  • Letakkan kursos di area bawah daftar isi, perhatikan tanda panah.
  • Klik layout > Breaks > Next page. Lalu kursos akan berpindah ke halaman selanjutnya.
  • Block nomor haaman yang akan diganti  > Klik design > Non-aktifkan Link to Previous sampai berubah tidak aktif.
  • Tetap block nomor halaman yang akan diganti > klik Design > page number > format page number.
  • Pilih angka pada kotak number format > isikan angka  di start at > OK
  • Selesai... halaman akan berubah menjadi angka 1 pada Bab 1 sampai selesai, seperti berikut.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa membuat nomor halaman yang berbeda dalam satu file harus melalui proses pemisahan halaman antara halaman yang menggunakan romawi dan halaman yang menggunakan angka, yaitu dengan cara mengeklik Next Page  dan menonaktifkan Link to Previous.

Sangat mudah bukan? Jadi teman-teman tidak peru lagi bersusah payah untuk menyendirikan file antara halaman awal dan halaman isi. 

Sekian cara membuat nomor halaman yang berbeda di Microsoft Word. Semoga bermanfaat...


Baca Juga




Ditulis oleh Endang Wahyuni
Continue reading Cara Membuat Nomor Halaman yang Berbeda di Microsoft Word

Thursday, July 9, 2020

Privacy Policy

Privacy Policy for endtalks.com

At endtalks.com, accessible from www.endtalks.com, one of our main priorities is the privacy of our visitors. This Privacy Policy document contains types of information that is collected and recorded by endtalks.com and how we use it.
If you have additional questions or require more information about our Privacy Policy, do not hesitate to contact us.

Log Files

endtalks.com follows a standard procedure of using log files. These files log visitors when they visit websites. All hosting companies do this and a part of hosting services' analytics. The information collected by log files include internet protocol (IP) addresses, browser type, Internet Service Provider (ISP), date and time stamp, referring/exit pages, and possibly the number of clicks. These are not linked to any information that is personally identifiable. The purpose of the information is for analyzing trends, administering the site, tracking users' movement on the website, and gathering demographic information.

Cookies and Web Beacons

Like any other website, endtalks.com uses 'cookies'. These cookies are used to store information including visitors' preferences, and the pages on the website that the visitor accessed or visited. The information is used to optimize the users' experience by customizing our web page content based on visitors' browser type and/or other information.
For more general information on cookies, please read the "What Are Cookies" article on Cookie Consent website.

Google DoubleClick DART Cookie

Google is one of a third-party vendor on our site. It also uses cookies, known as DART cookies, to serve ads to our site visitors based upon their visit to www.website.com and other sites on the internet. However, visitors may choose to decline the use of DART cookies by visiting the Google ad and content network Privacy Policy at the following URL – https://policies.google.com/technologies/ads

Privacy Policies

You may consult this list to find the Privacy Policy for each of the advertising partners of endtalks.com. Our Privacy Policy was created with the help of the Free Privacy Policy Generator and the Privacy Policy Generator Online.
Third-party ad servers or ad networks uses technologies like cookies, JavaScript, or Web Beacons that are used in their respective advertisements and links that appear on endtalks.com, which are sent directly to users' browser. They automatically receive your IP address when this occurs. These technologies are used to measure the effectiveness of their advertising campaigns and/or to personalize the advertising content that you see on websites that you visit.
Note that endtalks.com has no access to or control over these cookies that are used by third-party advertisers.

Third Party Privacy Policies

endtalks.com's Privacy Policy does not apply to other advertisers or websites. Thus, we are advising you to consult the respective Privacy Policies of these third-party ad servers for more detailed information. It may include their practices and instructions about how to opt-out of certain options.
You can choose to disable cookies through your individual browser options. To know more detailed information about cookie management with specific web browsers, it can be found at the browsers' respective websites. What Are Cookies?

Children's Information

Another part of our priority is adding protection for children while using the internet. We encourage parents and guardians to observe, participate in, and/or monitor and guide their online activity.
endtalks.com does not knowingly collect any Personal Identifiable Information from children under the age of 13. If you think that your child provided this kind of information on our website, we strongly encourage you to contact us immediately and we will do our best efforts to promptly remove such information from our records.

Online Privacy Policy Only

This Privacy Policy applies only to our online activities and is valid for visitors to our website with regards to the information that they shared and/or collect in endtalks.com. This policy is not applicable to any information collected offline or via channels other than this website.

Consent

By using our website, you hereby consent to our Privacy Policy and agree to its Terms and Conditions.
Continue reading Privacy Policy

Cara Edit Background Tanda Tangan Hasil Scan Agar Transparan Seperti Asli Melalui CorelDraw

Tanda tangan elektronik diperlukan untuk menandatangani dokumen virtual. Apalagi dimasa pandemi covid-19 sekarang ini, dokumen-dokumen virtual sangat diperlukan untuk menggantikan dokumen print-out. Mulai dari perusahaan yang menerapkan sistem kerja work from home sampai institusi lembaga pendidikan yang menerapkan sistem pembelajaran daring. Jika pihak satu membutuhkan tanda tangan pihak lainnya, sementara kedua belah pihak tidak bisa bertatap muka, maka tanda tangan elektronikpun jadi solusinya. 
Selain itu, tanda tangan elektronik tersebut juga sangat bermanfaat untuk menandatangani dokumen yang akan dicetak dalam jumlah banyak. Seperti sertifikat atau piagam misalnya. 

Caranya yaitu dengan men-scan atau mem-foto tanda tangan orang yang bersangkutan yang kemudian ditempelkan (di-copy-paste) ke dokumen yang diperlukan.

Namun hasil scan atau foto tanda tangan jika ditempelkan / dicopy-paste ke dokumen secara langsung, akan menghasilkan tanda tangan yang masih memiliki background. Seperti gambar di bawah ini.
Nah, untuk menjadikan background tanda tangan menjadi transparan seperti tanda tangan asli, kita harus mengeditnya terlebih dahulu. Untuk mendapatkan hasil editan yang mulus, sangat mirip dengan tanda tangan asli, kita bisa mengeditnya melalui CorelDraw dengan langkah-langkah yang cukup mudah. Berikut langkah-langkahnya.
  • Scan / foto tanda tangan yang akan di edit
  • Buka CorelDraw > New Blank Document > file > import
  • Atur ketajaman gambar terlebih dahulu agar hasilnya maksimal dengan cara: Pilih Effect > Adjust > Tone Curve. Ikuti posisi titik yang saya beri tanda panah merah kemudian > preview untuk melihat hasilnya. Jika dirasa kurang tajam bisa dinaik turunkan kurvanya. > Ok


    • Klik Bitmaps > Bitmap Color Mask. Klik icon Color Selection > klik background gambar > Jika baris pertama sudah berubah warna seperti background gambar, beri centang.

    •  atur persentase transparansi > apply. Sesuaikan transparansi sampai background benar-benar hilang dan hasil gambar tetap mulus.

    • Jika hasil sudah memuaskan, klik Export > pilih jenis file PNG > beri nama > OK

    • Klik Transparansi > OK

    • Silahkan paste file PNG yang telah di export di Ms.Words atau aplikasi lainnya. Atur Wrap Text. Klik Kanan > Wrap Text > In Front Of the Text

    • Selesai.. seperti ini hasilnya. Sangat mirip dengan tanda tangan asli bukan ?

    Nah... editing gambar melalui CorelDraw sangat bagus untuk menjaga kualitas resolusi gambar. Dengan melalui proses pengaturan tone curve maka akan dihasilkan kualitas gambar yang tajam dan hasil akhir akan sangat mirip dengan tanda tangan aslinya. Berbeda dengan mengeditnya langsung melalui Ms.Word, akan ada garis-garis yang terputus pada tanda tangan tersebut.

    Jadi, teman-teman bisa mengikuti cara edit background tanda tangan hasil scan agar transparan dan terlihat seperti aslinya jika memerlukan tanda tangan elektronik untuk keperluan dokumen virtual. Namun, yang perlu diingat adalah, pastikan teman-teman telah mendapatkan ijin / kesepakatan dari pihak yang terkait, terutama pihak yang memiliki tanda tangan tersebut, agar tidak melanggar hukum undang-undang.

    Baca Juga


    Ditulis oleh Endang Wahyuni
    Continue reading Cara Edit Background Tanda Tangan Hasil Scan Agar Transparan Seperti Asli Melalui CorelDraw

    Friday, June 26, 2020

    Cara Aktivasi Kembali Mobile Banking Bank Jatim yang Tereset

    Hay guys... pada artikel kali ini, saya akan membagikan pengalaman saya tentang bagaimana cara mengaktifkan kembali mobile banking Bank Jatim yang tereset. Sebelumnya, saya sudah memakai mobile banking tersebut. Namun, karena saya mereset ulang Hp saya, semua aplikasinya terhapus termasuk aplikasi Mobile Banking Bank Jatim. Caranya cukup mudah, hampir sama dengan melakukan aktivasi Mobile Banking Bank Jatim tanpa datang ke kantor bank. Jadi, nasabah tidak perlu datang ke kantor bank untuk mengatasi masalah ini. Namun perlu diingat bahwa ada beberapa hal yang harus dilakukan.
    Awalnya, karena saya pikir saya sudah pernah registrasi SMS Banking dan Mobile Banking sebelumnya, saya hanya perlu mendownload kembali aplikasi tersebut di play store kemudian melakukan aktivasi kembali. Namun, ketika saya melakukan aktivasi, tidak ada sms kode aktivasi yang masuk sama sekali. Padahal pulsa saya mencukupi, saya coba berulang-ulang tetap saja tidak ada kode aktivasi yang masuk. Adakah teman-teman yang mengalami hal yang sama?
    Nah ternyata, sebelum mendownload ulang aplikasi Mobile Bank Jatim tersebut, nasabah harus melakukan unregistrasi SMS Banking dullu, bisa anda lakukan di ATM Bank Jatim terdekat yaa.. tanpa harus datang ke kantor bank. Baik, simak langkah-langkah berikut ini ya...

    1. Unregistrasi SMS Banking

    Pastikan sebelum melakukan unregistrasi SMS Banking, aplikasi Mobile Banking Bank Jatim belum di download.
    • Pergi ke ATM Bank Jatim terdekat
    • Masukkan kartu ATM, pilih bahasa dan masukkan normor PIN anda
    • Pilih menu "TRANSAKSI LAIN" > pilih "PENDAFTARAN / PENGATURAN SMS BANKING"
    • Pilih "UNREGISTRASI SMS BANKING"
    • Tunggu sampai SMS notifikasi masuk, seperti berikut ini.


    2. Registrasi SMS Banking

    • Masukkan PIN ATM lagi
    • Pilih menu "TRANSAKSI LAIN" > pilih "PENDAFTARAN / PENGATURAN SMS BANKING"
    • Pilih "REGISTRASI SMS BANKING"
    • Masukkan nomor Hp > masukkan PIN 6 digit > Oke
    • Jika berhasil, resi bukti transaksi akan keluar dan anda akan mendapatkan SMS notifikasi.

    3. Aktivasi Mobile Banking

    • Pilih menu aktivasi > pilih setuju 
    • Masukkan No rekening dan Mobile PIN yang telah anda buat untuk registrasi SMS Bangking melalui ATM pada langkah sebelumnya > lanjut

    • Masukkan kode aktivasi yang dikirim melalui SMS > masukkan password untuk login > aktivasi
    • Pada jendela selanjutnya, anda diminta untuk memilih apakah tetap menggunakan SMS Banking atau tidak. Pilih "Ya" untuk tetap menggunakan SMS Banking dengan biaya pulsa (melakukan transaksi melalui SMS, mendapat notifikasi transaksi melalui SMS dll) atau "Tidak" untuk hanya menggunakan Mobile Banking yang diakses melalui internet menggunakan aplikasi yang sudah diunduh.
    • Jika sudah berhasil, coba login menggunakan password yang anda buat tadi ya.. 

    Jadi yang perlu diingat adalah, teman-teman harus melakukan unregistrasi terlebih dahulu sebelum melakukan aktivasi kemabali mobile banking kalian. Tidak perlu berfikir dua kali untuk menyelesaikan masalah ini karena teman-teman bisa melakukannya sendiri melalui ATM bank jatim terdekat, tidak perlu datang ke kantor bank. Mudah bukan?

    Dengan memanfaatkan layanan Mobile Banking Bank Jatim, nasabah bisa melakukan transaksi  seperti cek saldo, mutasi rekening, transfer, mencari ATM dan kantor Bank Jatim terdekat kapan saja melalui aplikasi, dan pastinya melalui sambungan internet ya.. Berbeda dengan SMS Banking yang memakan biaya pulsa untuk melakukan setiap transaksi.
    Demikian informasi cara aktivasi kembali Mobile Banking Bank Jatim yang tereset. Semoga bermanfaat...



    Baca juga


    Ditulis oleh Endang Wahyuni

    Continue reading Cara Aktivasi Kembali Mobile Banking Bank Jatim yang Tereset