Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Sunday, July 18, 2021

Implementasi Pendekatan Sosial Kognitif (Albert Bandura) pada Pembelajaran PAI

IMPLEMENTASI PENDEKATAN SOSIAL KOGNITIF (ALBERT BANDURA) PADA PEMBELAJARAN PAI DALAM MENUMBUHKAN SIKAP KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN

Muhammad Bahrul Munir, Fatimatuz Zahroh, Robi'ul Awwaliya

Prodi PAI Pascasarjana IAIN Kediri

munirbakhrul99@gmail.com, Fatimatuzzahroh268@gmail.com, awwaliyaaa@gmail.com

Abstrak

Artikel ini membahas tentang implementasi pendekatan sosial kognitif (albert bandura) pada pembelajaran pai dalam menumbuhkan sikap kepedulian terhadap lingkungan. Adapun temuan artikel ini dilatarbelakangi dengan pembelajaran siswa melalui pengamatan terhadap apa yang ada dilingkungan sekitar terutama dalam pembelajaran PAI,  yang nantinya apa yang mereka amati dapat mencerminkan sikap kepedulian antar siswa dengan lingkungan.  Karena, Setiap individu siswa akan mempelajari berbagai macam hal, yang berpusat pada perhatian, daya ingat, persepsi serta pola pikir dari hal-hal kecil sampai mempelajari hal-hal besar, seperti seorang siswa yang memperhatikan pembelajaran yang sedang berlangsung. Salah satu teori pembelajaran yang dapat digunakan adalah teori sosial kognitif. Teori sosial kognitif (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari teori belajar sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura.

Kata kunci : Sosial Kognitif, Pembelajaran PAI , Sikap Kepedulian Lingkungan

Pendahuluan

Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Albert Bandura lahir di kanada pada tahun 1925. Ia memperoleh gelar doktornya dalam bidang psikologi klinis dari University of lowa di mana arah pemikirannya di pengaruhi oleh tulisan Miller dan Dollard (1941) yang berjudul Social Learning And Imitation. Penamaan baru dengan nama Teori Kognitif Sosial ini dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Ide pokok dari pemikiran Bandura juga merupakan pengembangan dari ide Miller dan Dollard tentang belajar meniru (imitative learning).2 Pada beberapa publikasinya, Bandura telah mengelaborasi proses belajar sosial dengan faktor-faktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial. 

Teori kognitif sosial adalah teori yang menonjolkan gagasan bahwa sebagian besar pembelajaran manusia terjadi dalam sebuah lingkungan sosial. Dengan mengamati orang lain, manusia memperoleh pengetahuan, aturan-aturan, keterampilan-keterampilan, strategi-strategi, keyakinan-keyakinan, dan sikap-sikap. Individu-individu juga melihat model-model atau contoh-contoh untuk mempelajari kegunaan dan kesesuaian prilaku-prilaku akibat dari prilaku yang di modelkan, kemudian mereka bertindak sesuai dengan keyakinan tentang kemampuan mereka dan hasil yang diharapkan dari tindakan mereka.3 

Bandura mengembangkan teorinya untuk mebahas cara-cara orang memiliki kendali atas peristiwa dalam hidup mereka melalui pengaturan diri atas pikiran-pikiran dan tindakan mereka. Proses dasarnya meliputi menentukan tujuan, menilai kemungkinan hasil dari tindakan-tindakan, mengevaluasi kemajuan pencapaian tujuan, dan pengaturan diri atas pikiran, emosi, dan tindakan. Bandura menjelaskan bahwa karakteristik khas lainnya dari teori kognitif sosial adalah peran utama yang di berikannya pada fungsi-fungsi pengaturan diri. Orang berprilaku bukan sekedar untuk menyesuaikan diri denagn kecendrungan-kecendrungan orang lain. Kebanyakan perilaku mereka dimotivasi dan diatur oleh standard internal dan reaksi-reaksi terhadap tindakan meraka sendiri yang terkait dengan penilaian diri.

Rumusan Masalah

Bagaimana implementasi pendekatan sosial kognitif (albert bandura) pada pembelajaran PAI  dalam menumbuhkan sikap kepedulian terhadap lingkungan?

Kajian Teori 

1. Teori Belajar Sosial Kognitif

Teori sosial kognitif (Social Cognitive Theory) merupakan penamaan baru dari Teori belajar sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Albert Bandura lahir di Kanada pada tahun 1925. Ia memperoleh gelar doktornya dalam bidang psikologi klinis dari University of Lowa di mana arah pemikirannya dipengaruhi oleh tulisan Miller dan Dollard yang berjudul Social Learning And Imitation. Penamaan baru dengan nama teori sosial kognitif ini dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Ide pokok dari pemikiran Bandura juga merupakan pengembangan dari ide Miller dan Dollard tentang belajar meniru (imitative learning). Pada beberapa publikasinya, Bandura telah mengelaborasi proses belajar sosial dengan faktorfaktor kognitif dan behavioral yang memengaruhi seseorang dalam proses belajar sosial.

Ketertarikan Bandura dalam hal perilaku dan kepribadian, mendorongnya untuk memahami perilaku (behavior), dari berbagai segi yakni melibatkan proses kognitif di samping proses perilaku itu sendiri. Hal ini melahirkan konsepsi berfikir dalam pemahaman perilaku dan dalam bukunya social foundation of thought and action; a social cognitive theory menjelaskan bahwa perilaku itu bukan imitasi melainkan adanya aspek kognitif sebagai pertimbangan kenapa perilaku muncul dan kenapa tidak dimunculkan, hal ini disebut dengan observational learning bahwa belajar dan pembentukan perilaku bukan karena imitasi, melainkan adanya pertimbangan kognitif si observer terhadap lingkungannya. Ini yang mendasarkan lahirnya konsep teori sosial kognitif.

Bandura meyakini bahwa tindakan mengamati memberikan ruang bagi manusia untuk belajar tanpa berbuat apapun. Manusia belajar dengan mengamati perilaku orang lain. Vicarious learning adalah pembelajaran dengan mengobservasi orang lain. Fakta ini menantang ide behavioris bahwa faktorfaktor kognitif tidak dibutuhkan dalam penjelasan tentang pembelajaran. Bila orang dapat belajar dengan mengamati, maka mereka pasti memfokuskan perhatiannya, mengkonstruksikan gambaran, mengingat, menganalisis, dan membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi pelajaran. Bandura percaya penguatan bukan esensi pembelajaran. Meski penguatan memfasilitasi pembelajaran, namun bukan syarat utama. Pembelajaran manusia yang utama adalah mengamati model-model, dan pengamatan inilah yang terus menerus diperkuat.

Fungsi penguatan dalam proses modeling, yaitu sebagai fungsi informasi dan fungsi motivasi. Penguat memiliki kualitas informatif maksudnya, tindakan penguatan dan proses penguatan itu sendiri bisa memberitahukan pada manusia perilaku mana yang paling adaptif. Manusia bertindak dengan tujuan tertentu. Dalam pengertian tertentu, manusia belajar melalui pengalaman mengenai apa yang diharapkan untuk terjadi, dan demikian mereka bisa menjadi semakin baik dalam memperkirakan perilaku apa yang akan memaksimalkan peluang untuk berhasil. Dengan demikian pengetahuan atau kesadaran manusia mengenai konsekuensi perilaku tertentu bisa membantu mengoptimalkan efektivitas suatu program pembelajaran. Selanjutnya, penguat dalam teori pembelajaran sosial dipahami sebagai hal yang memiliki kualitas motivasi. Maksudnya, manusia belajar melakukan antisipasi terhadap penguat yang akan muncul dalam situasi tertentu, dan perilaku antisipasi awal ini menjadi langkah awal dalam banyak tahapan perkembangan. 

Orang tidak memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, tetapi mereka bisa mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi apa yang akan muncul dari perilaku tertentu berdasarkan apa yang mereka pelajari dari pengalaman baik dan buruk yang telah dialami orang lain (dan yang terpenting, tanpa langsung menjalani sendiri pengalaman itu). Sedangkan prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura termasuk sosial dan moral. Menurut Barlow, sebagian besar yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imitation), dan penyajian, contoh perilaku (modeling). Dalam hal ini, seseorang siswa belajar mengubah perilakunya sendiri melalui penyaksian cara orang lain atau sekelompok orang mereaksi atau merespons sebuah stimulus tertentu. Siswa ini juga dapat mempelajari respons-respons baru dengan cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain, misal guru atau orangtuanya.

Dari pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa teori belajar sosial Albert Bandura adalah sebuah teori belajar yang memfokuskan orang belajar dari yang lain, atau dengan kata lain orang belajar dengan melihat orang lain melalui observasi, pengamatan, peniruan dan pemodelan baik pengamatan perilaku orang lain, sikap bahkan hasil dari perilaku tersebut. Bandura meyakini bahwa tindakan mengamati memberikan ruang bagi manusia untuk belajar tanpa berbuat apapun, dengan belajar mengamati inilah seseorang dapat memfokuskan perhatiannya, mengkonstruksikan gambaran, mengingat, menganalisis, dan membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi pelajaran.

 2. Konsep Pembelajaran Sosial (Social Learning) Albert Bandura

Secara umum, teori ini menyatakan bahwa manusia bukanlah seperti robot yang tidak mempunyai pikiran dan menurut saja sesuai dengan kehendak pembuatnya. Namun, manusia mempunyai otak yang dapat berpikir, menalar, dan menilai, atau membandingkan sesuatu, sehingga dapat memilih arah bagi dirinya.8 Bandura meneliti beberapa kasus, salah satunya ialah kenakalan remaja. Menurutnya, lingkungan memang membentuk perilaku dan perilaku membentuk lingkungan. Jadi dapat dipahami dari konsep Bandura ini bahwa lingkungan dan perilaku seseorang saling mempengaruhi satu sama lain. Selain aspek perilaku dan lingkungan juga di pengaruhi kognitif seseorang. Karena itu, dia menyatakan lebih lanjut dalam konsepnya aspek perlaku, lingkungan, serta kognitif saling berhubungan dan mempengaruhi belajar, ketiga aspek tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut:

Konsep pembelajaran sosial

Konsep diatas menandakan bahwa tindakan manusia adalah hasil dari interaksi antara lingkungan, perilaku dan manusia itu sendiri, yang nantinya akan menghasilkan timbal balik untuk mengindikasikan adanya interaksi dan dorongan yang mempunyai kekuatan dan memberikan konstribusi yang setara. misal, mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh satu sama lain. Sebagai contoh, umpan balik guru (lingkungan) dapat mengarahkan siswa untuk menetapkan tujuan yang lebih tinggi (kognitif) dan tujuan ini akan memotivasi siswa untuk menempatkan lebih banyak upaya (perilaku) dalam studi mereka. 

Prinsip utama dari teori pembelajaran sosial Bandura ini ialah pemodelan (modeling). Pemodelan sesuai dengan istilahnya adalah pembelajaran dengan metode percontohan. Melalui modeling ini diharapkan bisa terjadi umpan balik atau interaksi yang baik antara guru dengan siswa. 

3. Pendidikan Agama Islam

Menurut Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang melalui ajaran-ajaran agama Islam yaitu berupa bimbingan dan asuhan kepada anak didik agar nantinya setelah selesai pendidikan ia akan dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam itu sebagai suatu pandangan hidup demi keselamatan hidup dunia dan akhirat.

Abdul Majid dalam jurnalnya Syahril Ramadhan menyatakan Pendidikan Agama Islam mengacu dalam beberapa hal yaitu :

  • Menyangkut pendidikan secara sadar dan terencana (perencanaan) yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
  • Proses transfer pengetahuan (pelaksanaan).
  • Sumber pendidikan yang berasal dari al-Qur’an dan al-Hadits (Materi).
  • Bertujuan menghasilkan murid yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam, serta kemampuan untuk hidup berdampingan dengan penganut agama lain dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan syariat Islam. 

Dengan tujuan adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan Agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Dengan demikian dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar seorang pembimbing dan pemimpin dari si pendidik kepada si terdidik terhadap perkembangan jasmani dan ruhani, serta proses menyiapkan generasi muda dengan memberikan nilai-nilai pengetahuan dan keislaman dalam membentuk individu yang memiliki kepribadian yang baik berdasarkan ajaran Islami yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar mencapai derajat yang lebih tinggi sehingga mampu menunaikan tugasnya menjadi khalifah dimuka bumi. 

Adapun tujuan pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah menurut Abdul Majid dan Dian Andayani yaitu untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamatan, serta pengalaman siswa tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaan, berbangsa dan bernegara serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.

4. Sikap Kepedulian Sosial

Menurut Azwar, “sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan”.Sedangkan menurut Harlen. “sikap adalah kesiapan atau kecenderungan sesorang untuk bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu”. Menurut Wibowo, “Peduli adalah mengindahkan, memperhatikan dan menghiraukan. Kepedulian adalah perihal sangat peduli dan sikap mengindahkan atau memprihatinkan terhadap objek tertentu.”

Hamalik , mengatakan bahwa “lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan atau pengaruh tertentu kepada individu”.

Menurut Yaumi, “Peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang berupaya mencegah kerusakan alam dilingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

Menurut Saptono , “sikap peduli lingkungan siswa dapat muncul pada saat siswa diajak untuk belajar sikap peduli dengan cara bertindak peduli”. Dengan kata lain, mengajak siswa untuk terjun langsung ke lingkungan akan menumbuhkan sikap peduli siswa terhadap lingkungan. Siswa akan memahami bahwa segala perilaku manusia yang bersifat merusak alam, akan berakibat buruk yang dirasakan oleh manusia itu sendiri, dengan demikian siswa akan memiliki sikap peduli dan sadar terhadap lingkungan disekitarnya. 

Dari pemamaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, Sikap peduli lingkungan merupakan salah satu sikap dari reksi perasaan seoarang individu dalam menghadapi atau bertindak terhadap suatu objek atau situasi terutama dalam lingkungan. Begitu juga perilaku siswa terhadap lingkungannya, dimana siswa mampu memahami dan mempelajarai apa yang ada di sekelilingnya dengan tidak merusak lingkungan serta mampu menjaga alam dan seisinya dengan baik

Metode 

Metode penelitian adalah suatu proses atau cara yang dipilih secara spesifik untuk menyelesaikan masalah yang diajukan dalam sebuah riset. Adapun metode yang digunakan dalam artikel ini yaitu menggunakan metode kajian literature atau pustaka dengan pendekatana kualitatif, adapun teknik dalam pengumpulan data yang dilakukan penulis dengan mencari referensi dari buku, materi perkuliahan dan jurnal yang relevan dengan topic pembahasan . kemudian pembahasan ini berisi implementasi pendekatan sosial kognitif (albert bandura) pada pembelajaran PAI dalam menumbuhkan sikap kepedulian terhadap lingkungan. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam artikel ini yaitu menggunakan analisis deskriptif.

Pembahasan

Implementasi Pendekatan Sosial Kognitif (Albert Bandura) Pada Pembelajaran PAI  Dalam Menumbuhkan Sikap Kepedulian Terhadap Lingkungan.

Teori social kognitif pada dasarnya merupakan sebuah teori yang ingin menggambarkan bagaimana manusia sebagai makhluk social dapat memperoleh informasi dengan berbagai macam cara dan proses yang berbeda-beda. Sebagaimana Albert Bandura dalam teorinya mengatakan bahwa manusia memperoleh informasi merupakan suatu cara organisme social. Hal ini berarti bahwa seseorang/kelompok manusia dapat belajar baik secara langsung maupun tidak langsung, dimana dalam proses belajarnya dapat menggunakan gambaran orang lain secara langsung(model) yang merupakan bentuk interaksi gambaran kehidupan sebagai makhluk social. Dari hasil interaksi inilah akan membentuk ingatan atau terekam dalam memori manusia. Dari memori-memori inilah yang nantinya akan menjadi pengetahuan sebagai bentuk setting social yang nantinya dapat dijadikan sebagai pengelaman. 

Dalam teori Albert bandura menyatakan bahwa factor social dan kognitif, dan juga perilaku memainkan peran penting dalam pembelajaran, factor kognitif inlah yang mungkin  berupa ekspetasi siswa untuk meraih keberhasilannya dalam belajar, sedangkan factor social berupa pengamatan peserta didik terhadap perilaku orang tua ataupun perilaku orang lain yang ada disekitarnya. 

Dengan kata lain, seseorang belajar dilakukan dengan melalui pengamatan tingkah laku orang lain (model) hasil pengamatan itu kemudian dimantapkan dengan cara menghubungkan pengamatan baru dengan pengalaman sebelumnya atau mengulang-ulang yang nantinya akan menimbulkan sebuah tingkah laku maupun perbuatan. Sebab, perilaku seseorang dipengaruhi oleh orang, lingkungan serta perilaku itu sendiri, yang kemudian akan menghasilkan perilaku selanjutnya. Dalam hal ini ketiga komponen ini tidak dapat di pahami secara terpisah sebab ketiganya sangat berkaitan erat satu sama lain, inilah yang disebut dengan teori determinisme Albert Bandura sebagai bagian dari social kognitif. 

Adapun proses yang digunakan dalam konsep albert bandura dalam proses belajar yang secara langsung akan dikaitkan dengan proses pembelajaran PAI yaitu sebagai berikut:

1. Memberi perhatian (Attention)

Sebagai pengamat, orang tidak dapat belajar melalui observasi kecuali jika ia memperhatikan kegiatan-kegiatan yang dipergakan oleh model itu dan benar-benar memahaminya. Dalam hal ini perilaku yang mencolok pandangan mata akan lebih mudah diperhatian dan dipahami. Selain itu, juga tergantung pada apakah si pengamat siap untuk memperhatikan perilaku-perilaku yang dipergakan tersebut, terutama ketika banyak hal lain yang seolah-olah berebut untuk mendapatkan perhatian pengamat. Proses memberi perhatian juga tergantung pada kegiatan apa dan siapa modelnya yang bersedia untuk diamati dan perilaku yang diamatai tersebut harus menghasilkan dampak yang dapat ditangkap pancaindra. 

Dalam hal ini dapat dipraktikkan pada kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Dimana guru mendapatkan perhatian dari siswa seperti contoh dalam melaksanakan praktik sholat. Guru akan memperaktikkan kepada siswa tata cara melaksnaakan shalat, kemudian siswa akan memperhatikan serta memahami apa yang telah disampaikan guru, dan menyimpan semua ingatannya didalam memori pikirannya kemudian menjadi pengetahuan dan pengalamannya dalam pelaksanaan shalat yang dilakukan melalui pengamatan siswa terhadap guru. Sehingga, dalam hal ini siswa yakin apa yang telah ia amati akan menjadi pengetahuan baru dalam meningkatkan pembelajarannya serta siswa nantinya mampu memperaktikkan secara langsung pelaksanaan shalat tersebut.

2. Menyimpan dalam ingatan (Retention)

Setelah perilaku diamati, pengamat harus dapat mengingat apa yang telah diamatinya. Hal ini bisa dilakukan dilakukan dengan cara memberi kode dari informasi yang telah didapatnya menjadi bentuk gambar atau dalam bentuk verbal yang kemudian disimpan dalam ingatannya. Hal ini sanagt membantu apabila kegiatan yang ditiru segera diulang atau dipraktikkan setelah pengamatan selesai. Dalam kegiatan pembelajaran diperlukannya. Seperti pola perilaku yang anak tampilkan melalui pengamatan, serta mengingtnya dalam jangka waktu yang cukup lama, sebab seseorang tidak akan terpengaruh apabila apa yang diamati olehnya tidak disimpan dalam ingatannya. 

Dalam teori albert bandura, menyimpan ingata (retention) dapat berupa imajinasi dan berupa verbal, dimana, imajinasi ini berupa gambaran-gambaran berbagai hal yang dialami model yang dapat siswa amati, dan dilaksnakan setelah siswa melakukan observasi. Tidak hanya itu dalam menarik daya minat peseta didik diperlukan model/media pembelajaran yang menarik seperti video pembelajaran berkarakter animasi sehingga apa yang telah ditunjukan dapat menarik perasaan, perhatian siswa kemudian dapat disimpan dalam memori ingatannya. Seperti contoh dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, untuk menarik daya minat siswa memahami materi yang disampaikan maka guru memberikan media pembelajaran berupa video tentang tata berpaikan yang baik menurut syariat islam, dengan video yang dilengkapi dengan animasi yang menarik maka akan emmpermudah siswa memahami apa yang dipelajari serta mampu mengingatnya dengan baik bagaimana seharusnya kita berpakaian dengan baik menurut syariat agama islam.

3. Proses reproduksi (production)

Setelah melalui tahap peniruan, pengematan dapat mengubah ide, gambar yang ada dalam ingatanya menjadi suatu tindakan. Tindakan-tindakan yang diperagakan dapat direkam melalui video sebagai alat bantu. Hal ini merupakan salah satu cara pemberian umpan-balik bagi pengamat sebagai observasi diri (self observation)  melalui penayangan kembali rekaman video tersebut. Dalam proses ini bertujuan untuk membetulkan perilaku yang salah sehingga kemuadian akan diperagakan oleh model perilaku yang benar. Seperti contoh seorang guru memberikan video pembelajaran tentang berperilaku sopan santun, saling tolong menolong serta menghormati sesama, baik kepada orang tua, guru, teman sebaya , bahkan lingkungan sekitar, dari video tersebut siswa akan memahami apa yang telah disampaikn sehingga diharapkan nantinya siswa mampu memperaktikkan perilaku yang ditampakkan dari video yang telah diamati siswa

4. Motivasi

Tahap ini yaitu sebagai wujud dari tahap penerimaan dorongan, penguatan segala informasi dalam memori siswa. Dalam hal ini, guru dianjurkan untuk memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada siswa yang berkinerja memuaskan. Sementara itu, kepada mereka yang belum menunjukan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penguasaan materi atau perilaku yang disajikan model (guru) bagi kehidupan mereka.

Pada proses ini siswa harus termotivasi untuk menunjukan tindakan model serta adanya dorongan yang mendasar kenapa siswa harus menunjukan apa yang telah ditampilakn oleh model melalui observasi siswa. Sebab dengan siswa melakukan tiruan model maka dengan ini siswa akan merasa bahwa apa yang dia lakukan akan meningatkan siswa dalam memperoleh penguatan. Dalam hal ini motivasi biasanya terjadi dalam proses pembelajaran berupa pujian, penialaian maupun penghargaan atas apa yang telah dilakukan siswa. 

Dari pemaparan diatas pembelajaran social kognitif melalui pengamatan dalam proses pembelajaan PAI dapat diterapkan dalam beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  • Kurikulum , pada kurikulum pembelajaran social kognitif melalui pengamatan dapat dilakukan dengan memberikan siswa kesempatan dalam mengamati apa yang telah ia peroleh dari model yang memandu kearah positif.
  • Proses pembelajaran. Dalam hal ini guru mengharuskan proses pembelajaran kearah social koginit yaitu dengan menerapkan pembelajaran kolaboratif. Dimana pembelajaran kolaboratif menekankan pada pembelajaran dalam ranah konteks social dna lingkungan. Sehingga siswa mampu beradaptasi dengan lingkungannya dan juga dapat berkeloborasi atau bekerjasama dengan teman sebaya dalam menyelesaiakan permaslahannya pada saat belajar.
  • Penialain perilaku belajar seringkali tidak dapat dilaksanakan kecuali tersedianya lingkungan yang kondusif. Maka dari itu diharapakn dewan guru mampu menyediakan lingkungan yang baik sehingga dapat telaksananya penilaian yang akurat.

Banyak gagasan dalam kognitif yang dapat di aplikasikan dalam proses pembelajaran teruatama dalam pembelajaran pendidikan agama Islam yaitu dengan melibatkan model-model, maupun efikasi diri, yang dilakukan melalui pengamatan. Pada dasarnya model yang benar-benar harus menjadi tauladan yang baik bagi kita maupun peserta didik yaitu melihat bagaimana keteladanaan pada diri Nabi Muhammad SAW. Sebab beliaulah yang menjadi suri tauladan bagi kaum muslimin.  Begitu juga dalam lingkungan keluarga, perilaku orangtua sangat berpengaruh terhadap apa yang ditampilkan siswa, karena sebelum anak mengenal lingkungannya anak akan lebih terfokuskan pada apa yang ditampilkan orangtuanya. 

Begitu juga dalam kepedulian lingkungannya, siswa/anak sebenarnya dapat belajar tidak hanya melihat apa yang ditampilkan oleh si model(guru). Akan tetapi dapat melihat serta mengamati apa yang ada di sekelilingnya, jika ketika di sekolah dia diajarkan untuk berdikap baik, santun, menghormati dan saling tolong menolong maka ketika dilingkungan ia akan menampilkan atau mempraktikkan apa yang dia lihat dan amati saat proses pembelajaran. Seperti halnya ketika bertemu dengan orang yang lebih tua dia akan menyapa , ketika melihat temannya kesuliatn amka dia akan membantunya, dan saling bergotong royong dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dan dengan adanya teori belajar social kognitif ini diharakan apa yang telah siswa peroleh dili ngkungan sekolah mampu siswa praktikkan dilingkunag luar sekolah serta mampu membantu siswa dalam beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. 

Penutup

1. Kesimpulan

Teori social kognitif pada dasarnya merupakan sebuah teori yang ingin menggambarkan bagaimana manusia sebagai makhluk social dapat memperoleh informasi dengan berbagai macam cara dan proses yang berbeda-beda. Sebagaimana Albert Bandura dalam teorinya mengatakan bahwa manusia memperoleh informasi merupakan suatu cara organisme social. Dalam teori Albert bandura menyatakan bahwa factor social dan kognitif, dan juga perilaku memainkan peran penting dalam pembelajaran, factor kognitif inlah yang mungkin  berupa ekspetasi siswa untuk meraih keberhasilannya dalam belajar, sedangkan factor social berupa pengamatan peserta diidk terhadap perilaku orang tua ataupun perilaku orang lain yang ada disekitarnya.

Adapun proses yang digunakan dalam konsep albert bandura dalam proses belajar yang seceara langsung akan dikaitkan dengan proses pembelajaran PAI yaitu sebagai berikut:

  • Memberi perhatian (Attention)
  • Menyimpan dalam ingatan (Retention)
  • Proses reproduksi (production)
  • Motivasi

Dari pemaparan diatas pembelajaran social kognnitif melalui pengamatan dalam proses pembelajaan PAI dapat diterapkan dalam beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  • Kurikulum
  • Proses pembelajaran.
  • Penialain

2. Saran

  • Memberi perhatian (Attention)
  • Menyimpan dalam ingatan (Retention)
  • Proses reproduksi (production)
  • Motivasi

Dari beberapa point diatas perlu ditambahkan :

- Interaksi 

Dalam proses tersebut pasti ada interaksi baik siswa guru dan teman, serta ketika dirumah atau dimana saja pasti membutuhkan proses interaksi sebagai proses belajar pada dirinya sendiri.

Daftar Pustaka

Alfaiz, et. al. Perspektif Teori Kognitif Sosial dan Psikosintesis dalam Membentuk Kepribadian dalam Buku Bunga Rampai (Kumpulan Karya Dosen Seluruh Indonesia Bidang Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu-Ilmu Eksakta Tahun 2017). Purwokerto: IRDH, 2017.

Daradjat,Zakiyah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1992

Herowati. “Kemandirian Belajar Siswa dalam Online Learning Edmodo di SMKN Sumenep”, Jurnal Lensa, Vol. 6 No. 2 (November, 2016): 99-107.

Kuswana, Wowo Sunaryo. Biopsikologi Pembelajaran Perilaku. Bandung: Alfabeta, 2014.

Lesilolo, Herly Janet. “Penerapan Teori Belajar Social Albert Bandura dalam Proses Belajar Mengajar di Sekolah”, Kenosis, Vol. 4 No. 2 (Desember): 186-202.

Majid, Abdul dan Dian Andayani. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kopetensi. Remaja Rosdakarya : 2004

Marhayati, Nelly. et.al. “Pendekatan Kognitif Sosial pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”, Dayah: Journal of Islamic Education, Vol. 3 No. 2 (2020): 250-270.

Ramadhan, Syahril. “Evaluasi Pendidikan Agama Islam di Madrasah”. Jurnal Al-Thariqah. Vol. 2, No. 1. 2017

Sulastri. “Penerapan Teori Kognitif Sosial dalam Pembelajaran di SD/MI”, Al- Ashr: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar Prodi PGMI-PAI- Universitas Islam Jember, Vol. 1 No. 1 (Maret, 2016): 125-141.

Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers, 2013.

Uno, Hamzah B. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. 2016.

Yanuardianto, Elga. “Teori Kognitif Sosial Albert Bandura”. Jurnal Auladuna. Vol. 1 No. 2. Oktober, 2019


Continue reading Implementasi Pendekatan Sosial Kognitif (Albert Bandura) pada Pembelajaran PAI

Friday, June 18, 2021

Dual-Language Learners: Indonesian and English

 Dual-Language Learners 

            People learn more than one language in a variety of ways. They might start learning two or more languages at the same time at home. They also might learn one language at home and begin to learn a second language when they attend an education in school. Indeed, the way people learn second language is not determined by age. This is because people needn’t to wait to be adult to start it. Children between birth and age five are learning language. The language which they learn can be more than one.  This raises some terms to describe how people learn language.

Friday, ‎June ‎11, ‎2021, ‏‎4:22:11 PM

        There are some terms used to describe children who are learning more than one language. One of them is dual language learners. Syrja states that in this type of programs, every student is guided learning to speak two languages simultaneously (2011, p.30). In other words, children are preserving their home language while learning the second language. This program is very useful for English Language Learners because it provides instructional practices to improve their ability to be fluent in English.  According to Susana, Brooke, and Yolanda, there must be systematic guidance to English learning which is combined with home language learning trough the same concept in order to achieve the highest achievement in both the students’ first and second languages (2008, p.4).  The benefits of this programs are that the students are able to join the learning process through language minority as well as native language. This can be deduced that dual language learners are children who are learning two languages at the same time. They learn a second language while continuing to develop their first (or home) language.

Indonesian and English

         The use of dual-language term advances the value and importance of first (home) and second language development. For dual-language learners, Passe considers that home languages are the languages of emotion, relationships, family traditions, and cultural values (2013, p.9). It means that home-language is used to communicate with families. In other words, this is one of ways to maintain their culture and connections. In addition, it is clear that home language cannot be abandoned despite children are trying to learn second language.  While the second language development also has important role in this program. Children are required to learn second language as well as learning their home language. Accordingly, dual language programs lead monolingual children become bilingual one.

Friday, ‎June ‎11, ‎2021, ‏‎4:22:11 PM

      Indonesian language is a mother language of Indonesia which is used as a means of communication among Indonesian people, both spoken and written. In fact, it plays two varieties of important role. In the formal variety, Bahasa Indonesia (BI) is mainly used in writing. According to Kridaklaksana in Kushartanti’s article, it has been propagated as a national language (2015, p.169), and ratified by the government in the 1945 Constitution. It is not only used to communicate in administration and national news media, but also used as the language of education.  Therefore, it is taught as the main subject in formal school, from elementary to secondary.

        Moreover, the informal variety lies in the using of colloquial Indonesian. Kushartanti states that it mainly used in spoken form, mostly in casual speech or semi-formal situations (2015, p.169).  Children who do not attend formal school yet, are able to speak colloquial Indonesian fluently. This is because in daily, people in their environment use it as communication language. They are also affected by the media, especially television which broadcasts children's entertainment. Thus, both children who have attended to formal school and those who have not yet, are required to learn Indonesian language in formal function. Otherwise, they are only able to use colloquial Indonesian without having deep understanding the use of the standard of their home language.

        At the same time, English also has important role for Indonesia. Because it has been used as language communication among countries, it is considered as nothing new in this modern world. According to Lauder based on Crystal’s theory (Crystal, 2003: p.67- 69), the global status of English is partly due to the number of people who speak it (Lauder: 2008). He estimates that in 2,000 people, there were approximately 1,500 million speakers of English worldwide. It consisted of around 329 million people who speak English as the first language, 430 million people who speak English as the second language, and about 750 million people who speak English as a foreign language in the countries of the expanding circle. This means that approximately one in four of the world’s population are capable of communicating to a “useful level” in English. Thus, it can be widely recognized that English is important for Indonesia.

REFERENCES

Franco-Fuenmayor, Susana E. Kandel-Cisco, Brooke. and PadrĂ³n, Yolanda. Improving Reading Comprehension in Dual Language Programs. TABE Journal. Vol. 10, No. 1. Winter 2008.

Kushartanti, Bernadette. Velde, Hans Van De. and Martin Everaert. Children’s use of Bahasa Indonesia in Jakarta kindergartens. Wacana. Vol. 16, No. 1. 2015.

Lauder, Allan. The Status and Function of English in Indonesia: A Review of Key Factors. Makara. Vol 12, No. 1. 20 July 2008.

Passe, Angele Sancho. 2013. Dual Language Learners: Strategies for Teaching English. St. Paul: Redleaf Press.

Syrja, Rachel Carrillo. 2011. How to Reach and Teach English Language Learners. San Fransisco: Jossey-Bass.


Written by Endang Wahyuni

Baca juga

Teaching Young Learners

Continue reading Dual-Language Learners: Indonesian and English

Thursday, April 1, 2021

Teaching Young Learners

Teachers of young learners need to know and understand the term of young learners and their characteristics. It will help them determining any aspects in the leaning and teaching process for young learners, such as curriculum, methods, teaching style, lesson plan, learning materials, and the way of getting along with them. This purposes to create an effective learning process. 

Wednesday, ‎August ‎14, ‎2019, ‏‎8:22:11 AM

What is “young learners”?

Term ‘young learners’ is frequently interpreted in different ways. The difference lies in the age mentioned. Ellis G believes that the term ‘young learners’ is now used to refer explicitly to children under the age of 13 (2014, p.75). As Linse writes in her book (2006, p.2), that young learners are defined as children between the ages of 5-12. It can be concluded that Young Learners are children who are studying in Kindergarten to Elementary School.

Children’s physical and psychological needs are different from adults’. Each child develops emotionally, morally, physically, and cognitively at different rates (Linse: 2006, p.3).  One child may not be bothered when he is accidently pushed by another child, while others may cry immediately. Some children are able to share their toys, while a different child considers that they should keep theirs. There are children who are able grasp sound-symbol relationship quickly, whereas it will take others a longer period of time to comprehend this concept. In short, children’s characteristic is different from adult.

Understanding young learners' characteristics

Teachers are able understanding children’s characteristics through biological and social point of view. In the biological point of view, generally biological is about children’s inborn characteristics which will grow and develop. While in social point of view, children are considered as the ones who need any help from knowledgeable people to expand their knowledge (Pinter: 2006, Juhana: 2014, p.43). Based on the two point of views, Juhana states that young learners have some characteristic as follows: “Young learners have a great curiosity to try new things and to explore concrete to abstract things (Pinter: 2006)”; “Young learners actively construct meaning from their experiences (Cameron: 2001)”; and “Young learners have a quite short attention span and are easy to get bored (Slattery and Willis, 2001)” (2014, p.43).

Teacher must pay attention to the three children’s characteristics mentioned above. First, young learners have a great curiosity to try new things and to explore concrete to abstract things. It means that in delivering the materials, teachers should focus on concrete items which can be absorbed by children. In other words, teachers should avoid teaching abstract concepts in order to obviate children’s misunderstanding. In addition, teachers are better using media in delivering the materials in order that the students are able to understand easily, such as using toys, puzzle, songs, etc.

Second, young learners actively construct meaning from their experiences. This is clear that young learners get their understanding not only from other people’s explanation but also from what they see and hear. When they have a chance to touch and interact with any objects, they are learning. In other words, children enhance learning through the real experience from their life. Teachers are able encouraging their learning process by letting them doing various activities which enable them to experience many things.

Third, young learners have a quite short attention span and are easy to get bored. It means that teachers should have ability maintaining children’s focus and attention. It can be done by creating interesting, fun, and enjoyable lesson for young learners. In short, being aware of what children can and cannot do developmentally, teachers will be better able to lead them in appropriate learning experiences. Young learners are active learners and thinkers.


REFERENCESS

Ellis, G. 2014. Young learners’: clarifying our terms.  ELT Journal.  Vol 68, No. 1. January 2014.

Juhana. Teaching English to Young Learners: Some Points to be Considered. Asian Journal of Education and e-Learning. Vol. 2, No. 1. February 2014.

Linse, Caroline T. 2006. Practical English Language Teaching: Young Learners. New York: McGraw-Hill.


Written by Endang Wahyuni


Baca juga
Continue reading Teaching Young Learners

Wednesday, February 26, 2020

, ,

Media Snake and Ladder Untuk Mengajar Grammar: Past Tense dan Present Perfect

SNAKE AND LADDER MEDIA

Snake and Ladder bisa disebut sebagai game ular tangga dalam istilah Bahasa Indonesia. Game ini bisa dijadikan media yang menyenangkan untuk belajar semua mata pelajaran dan semua materi, termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Gambar di atas merupakan media snake and ladder untuk megajar Bahasa Inggris, yaitu materi grammar: Past Tense vs. Present Perfect.

Media ini bisa dibuat menggunakan sterofom dengan desain layout yang terbuat dari kertas hvs dan kertas buffalo. Desain yang dibuat disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Karena kebutuhan penulis adalah untuk mengajar materi grammar, maka penulis menuliskan deretan bentuk verb tense untuk melatih murid membuat kalimat menggunakan past tense dan present perfect.


Berikut ini adalah langkah-langkah membuat media snake and ladder:

Alat & Bahan:
  1. Sterofom ukuran sedang
  2. Kertas HVS warna
  3. Kertas buffalo
  4.  Spidol
  5. Gunting
  6. Lem / double tip 
  7. Paku pines / jarum pentul
Langkah-langkah:
  1. Gunting kertas hvs warna menjadi kotak-kotak kecil dengan ukuran yang sama.
  2.  Tuliskan berbagai macam verb tense, regular dan irregular.
  3. Gambarlah beberapa tangga dan ular dikertas buffalo, kemudian guntinglah.
  4. Jika kotak-kotak kecil berisi verb tense dan guntingan gambar ular dan tangga sudah mencukupi, tatalah di atas sterofom. Sisakan bagian atas untuk judul dan sisi kanan untuk penjelasan lebih lanjut.
  5. Setelah tertata, tempelkan masing-masing kotak-kotak kecil berisi verb tense tersebut menggunakan lem atau double tip sesuai dengan posisi yang sudah tertata.
  6. Rekatkan gambar ular dan tangga diatas layout papan ular tangga yang telah dibuat. Atur sedemikian rupa agar tulisan verb tense tidak tertutupi.
  7. Gambarlah berbagai macam bentuk hewan lalu guntinglah untuk menjalankan game.
  8. Siapkan dadu, atau buat menggunakan sisa kertas hvs dan buffalo.
Cara memainkannya:
  • Letakkan macam-macam gambar hewan yang telah digunting dikolom start.
  • Lempar dadu!
  • Yang medapat giliran akan jalan sebanyak angka dadu yang didapat pada lemparan dadu.
  • Pindahkan pelaku sesuai milik kelompok masing-masing dengan cara meancapkan ikon hewan grup masing-masing ke sterofom menggunakan jarum pentul.

  • Buatlah kalimat sesuai dengan verb tense yang didapat. Angka ganjil: untuk past tense, dan genap untuk present perfect.

  • Grup yang mencapai finish paling dahulu akan menjadi pemenang.


SSILAHKAN DICOBA, SEMOGA BERMANFAAT! :)

Continue reading Media Snake and Ladder Untuk Mengajar Grammar: Past Tense dan Present Perfect